Catatan Akhir 2008

2008_2009Menjelang akhir tahun 2008, waktunya melihat kembali jejak langkah di tahun yang akan segera berlalu. Pertanyaan paling menarik adalah apa yang sudah kucapai pada tahun ini?
Pada awal tahun banyak ide yang melintas tapi banyak juga yang tidak menjadi kenyataan sampai dengan akhir tahun ini.

Paling tidak ada satu hal yang bisa dibilang kemajuan untuk diri sendiri yang berhasil dicapai tahun ini yaitu belajar programing. Belum terlalu dalam memang, tapi sudah cukup bisa memahami apa dan bagaimananya pembuatan sebuah program. Banyak baca buku memang menjadi kewajiban. Tapi perlu juga nanti ditambah dengan studi kasus programing yang pastinya akan menjadi “batu pengasah”.

Selain itu secara pribadi ada satu hal lagi yang sudah lama sekali ingin kulakukan sebagai rutinitas tapi baru pada beberapa bulan menjelang akhir tahun ini bisa terwujud. Bagi kebanyakan orang, bagun pagi adalah hal yang tidak terlalu sulit dilakukan, namun buatku itu menjadi semacam anugerah yang paling kunantikan. Suasana pagi yang segar dan tenang selama ini memang menjadi hal yang sulit kurasakan.

Dan catatan paling berkesan tahun ini adalah pertemuan dengan bidadari kecilku akhir Februari yang lalu. Walaupun cuma seminggu tapi meninggalkan kesan sangat mendalam buatku. Kapan lagi ya aku bisa bertemu lagi dengannya..??

Selamat Tahun Baru 2009!!

Kamu tenang aja..

Ini benar-benar terjadi. Tepatnya hari minggu kemarin tanggal 2 November 2008. Melalui kejadian ini aku kembali diingatkan bahwa kalau Tuhan berkata akan memberikan pertolongan maka pertolongan itu tidak akan pernah terlambat, tepat pada waktunya.
Ceritanya kemarin aku mau ke gereja sama ibu. Misa jam 6 sore di gereja pasar minggu. Kebetulan juga tanggal 2 november merupakan hari peringatan arwah orang beriman dan ada niatku untuk mendoakan seorang keluargaku. Kami naik motor dan cuaca memang sudah gelap mau turun hujan. Daripada telat dan kehujanan kami berangkat jam 5 sore. Memang kebiasaanku tidak pernah sampai terlambat ke gereja.
Lha kok ternyata di jalan malah keduluan hujan. Ya udah terpaksa berteduh dulu di pinggir jalan TB Simatupang. Menit demi menit nunggu, kok ga reda-reda hujannya bahkan cenderung tambah deras. Bisa telat nih, ato malah bisa ga jadi misa dan ga jadi deh ndoain arwah keluargaku itu, kataku dalam hati.
Dalam hati juga ngomel sendiri kenapa nggak bawa jas hujan tadi padahal tau cuacanya dah mendung. Sempat juga bilang sama Tuhan, “Tuhan, aku kan mau datang ke pestaMu, menghadiri undanganMu, dan aku nggak mau telat datangnya. Lagi pula hari ini kan mau ada misa peringatan arwah dan aku mo mendoakan keluargaku. Kalo hujan begini gimana dong. Apa emang aku nggak boleh ndoain keluargaku?”
Eh kok rasanya ada yang menjawab begini,”Kamu tenang aja, kamu nggak akan telat ke gereja.”
Setengah nggak percaya dan tetap menunggu dengan gelisah, bolak balik lihat jam tangan. Dalam hati bertanya-tanya, bener nggak ya suara tadi.
Jam terus bergerak, 17.26….17.35…..17.42….17.45… dan akhirnya jam 17.48 hujan mulai reda. Dalam hati bertanya, apa ini kesempatannya? Dan akhirnya jam 17.50 kuputuskan jalan lagi walaupun masih gerimis kecil-kecil. Wussss…. ngacir naik motor dan akhirnya jam 17.56 sampe di gereja. Luar biasa, ternyata suara itu benar. Tepat saat lonceng gereja berbunyi aku udah duduk manis di gereja..hehe. Aku nggak lupa berterima kasih pada Tuhan atas kesempatan yang diberikanNya. Dan ketika misa berlangsung, hujan ternyata turun lagi lumayan lebat.
Renungannya, Tuhan sudah menunjukkan bahwa Dia ada dan siap menjawab permohonanku. DIA juga mengajariku untuk bersabar menunggu saatNya tiba, saat yang tepat menurut kehendakNya. Dari peristiwa itu aku juga belajar untuk peka terhadap apapun juga yang memang sudah direncanakanNya.. Amin.
Semoga bermanfaat.

Catatan 2

Mencintai dengan sepenuh hati adalah lebih penting dari kesetiaan. Kesetiaan mengandung arti tidak akan mengalihkan perhatian pada yang lain. Sedangkan mencintai dengan sepenuh hati mengandung arti mencurahkan seluruh cinta yang ada di hati untuk 1 orang saja. Apakah setia juga berarti mencintai dengan sepenuh hati? Apakah mencintai dengan sepenuh hati juga berarti setia? Bagiku mencintai dengan sepenuh hati lebih penting daripada kesetiaan. Walaupun kesetiaan juga penting.

Renungan Perjalanan

Hari Jumat lalu aku pergi ke Lampung dalam rangka ngambil motor di tempat paman untuk dibawa ke Jakarta. Karena perjalanan malam maka tidak banyak hal yang bisa dilihat selama perjalanan. Daripada bengong dan ngelamun, aku doa rosario.Caranya sederhana dan nggak susah. Karena posisinya duduk di dalam bis jadi aku bisa lebih nyaman berdoanya. Mata merem sambil bersugesti membuat tanda salib dan mulai rosario. Kebetulan hari Jumat maka aku ambil peristiwa sedih yang aku hapal banget urutan peristiwanya. Pada setiap habis menyebutkan peristiwa, sebelum masuk ke doa Bapa Kami, aku sedikit flash back ke masa lalu dan merenungkan perjalanan hidup serta mengaitkannya (kadang ga berkaitan tapi ya dikait-kaitin aja) dengan setiap peristiwa rosario. Sempat kucatat beberapa hal yang menjadi renunganku waktu itu, sedikit berbagi pengalaman dengan pembaca semua.

1.Peristiwa sedih pertama – Yesus berdoa dalam sakratul maut.
Dalam banyak kisah Injil, Yesus disebutkan senang berdoa ataupun mengajak murid-muridNya berdoa. Sebagai pengikutNya, masa aku ga bisa mengikuti teladan itu. Sepanjang 28 tahun hidupku berapa lama aku meluangkan waktuku untuk berdoa?? Kurang memang dan harus ditambah.

2. Peristiwa sedih kedua – Yesus didera.
Yesus didera oleh tentara Romawi karena kesalahan yang tidak Ia lakukan. Sama halnya kalo aku terus berbuat dosa dan kesalahan maka aku menambah deraan di tubuh Yesus.

3. Peristiwa sedih ketiga – Yesus dimahkotai duri.
Mahkota duri dalam hal ini melambangkan dosa-dosa yang dilakukan oleh pikiran manusia, entah itu rencana jahat, pikiran kotor, ngerasani orang dan sebagainya. Seberapa sering aku menggunakan pikiranku untuk memikirkan hal-hal negatif? Itu sama aja menambah banyak derita Yesus akibat mahkota duri.

4. Peristiwa sedih keempat – Yesus memanggul salib ke gunung Kalvari.
Tiap orang punya salib, akupun punya salib juga. Setabah apa aku memanggulnya? Belajarlah pada Yesus.

5. Peristiwa sedih kelima – Yesus wafat di salib.
Untuk menebus dosa manusialah Yesus akhirnya disalibkan sampai wafat. Perlambangannya jelas bahwa aku harus bisa mematikan (menyalibkan) sifat-sifat burukku.

Catatan 1

Mencintainya sampai akhir hayat adalah sebuah keputusan. Dia sempurna di mataku sampai saat ini. Dan satu hal penting adalah dia setia. Dengan apa aku membalas kesetiaannya? Tentu dengan kesetiaan yang sama dan menjadi sempurna sama seperti dia sempurna di mataku.